BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada dasarnya manusia itu
sendiri ingin berbuat yang terbaik, tetapi dalam kehidupannya yang serba maju
dimana anak-anak kita sudah banyak terpengaruh budaya luar, sehingga banyak
anak usia sekolah yang mengalami perubahan akhlak baik sekolah umum maupun
sekolah agama.
Guru agama adalah motor penggerak pendidikan
agama karena itu ia adalah pribadi berakhlak yang dicerminkan dalam dirinya.
Berdisiplin tinggi, berwibawa, menguasai metode dan memiliki kepemimpinan.Ia harus
tekun bekerja memeriksa semua penugasan kepada murid sekaligus memberikan
bimbingan dan sangsi. Orang tua
memegang peranan penting dalam melaksanakan pendidikan agama dirumah.Namun yang
lebih penting orang tua diharapkan dapat menjadi teladan dalam segala hal.
Karena kita tahu bahwa anak-anak adalah harapan
kita semua sebagai generasi penerus Bangsa. Apabila akhlak anak-anak kita
rusak, apa yang kita harapkan dari mereka melainkan kehancuran. Oleh sebab
itulah untuk menghindarkan hal-hal yang tidak kita inginkan, maka mulai usia
dini perlu kita tanamkan pengisian akhlak kepada anak-anak agar mereka menjadi
pemimpin Bangsa yang beriman.
Akhlak tidak akan tumbuh tanpa diajarkan dan
dibiasakan oleh karena itu ajaran agama diajarkan secara bertahap, juga harus
diikuti secara terus menerus bentuk pengalamannya, baik disekolah maupun diluar
sekolah.
Keberhasilan pendidikan agama tidak hanya
menjadi tanggung jawab guru agama, tetapi semuanya menjadi tanggung jawab kita
bersama. Agar akhlak anak sebagai pemimpin bangsa nantinya akan berhasil
membangun tanah airnya untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian
Karakteristik Perkembangan Agama
2. Bagaimana Perkembangan
Agama Pada Masa Anak-Anak
3. Bagaimana Cara Pembinaan
Agama Pada Anak
C. Tujuan Masalah
1. Untuk Memahami
Karakteristik Perkembangan Agama
2. Untuk Mengetahui
Perkembangan Agama Pada Masa Anak-Anak
3. Untuk Mengetahui Cara
Pembinaan Agama Pada Anak
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Karakteristik Perkembangan Agama[1]
Perkembangan merupakan suatu perubahan dan perubahan ini tidak bersifat
kuantitatif melainkan kualitatif yaitu meliputi perkembangan segi fungsi-fungsi
kepribdian manusia misalnya fungsi perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan,
fantasi, pemikiran, perasaan dan kemauan setiap fungsi yang disebutkan daiats
dapat mengalami perubahan.Perubahan ini tidak dapat dikatakan sebagai
pertumbuhan melainkan perkembangan. Oleh karena itu perkembangan menyangkut
berbagai fungsi baik jasmaniah maupun rohaniah maka aka salah apabila kita
beranggapan bahwa perkembangan adalah semata-mata sebagai pertumbuhan atau
proses psikologis perkembangan adalah semata-mata sebagai pertumbuhan atau
proses psikologis.
Perkembangan jiwa beragama
pada anak mengikuti pada aspek perkembangan jiwa yang lainnya.Pada umumnya,
pembahasan tentang perkembangan jiwa terbagi menjadi tiga bagian, pembagian
tersebut amat disederhanakan, sehingga membutuhkan pejelasan tersendiri.
1.
Menurut Zakiah Darajat[2]
Klasifikasi yang ditampilkan misal amat luas.
Sebagai contoh adalah perkembangan jiwa pada masa anak-anak, termasuk di
dalamnya perkembangan pada masa sebelumnya, masa anak-anak awal, sehingga
rentang untuk anak-anak dimulai dari umur 2-12 tahun, yang jelas jauh beragam
dan terpadu.
Zakiah Darajat menjelaskan bahwa dalam diri
manusia, selain mempunyai kebutuhan jasmani juga mempunyai kebutuhan rohani. Terdapat enam
unsur kebutuhan yaitu:
a)
Kebutuhan akan kasih saying
b) Kebutuhan akan
rasa aman
c) Kebutuhan akan
rasa harga diri
d) Kebutuhan akan
rasa bebas
e) Kebutuhan akan
rasa sukses dan
f) Kebutuhan akan
rasa ingin tau.
Gabungan dari
keenam kebutuhan itu menyebabkan orang membutuhkan agama.
2. Menurut Bernard
Spikal, Walter Houstan Clark, Leiws Sherril, dan sebagainya dalam penjelasannya
diuraikan tentang perkembangan religius selama tahap-tahap besar dalam
kehidupan. Mereka mencoba mengungkap sumber jiwa beragama pada diri seseoarang.
3. Thomas
mengungkapkan teori The Four Wishes (1969) menyatakan terdapat empat macam
keinginan dasar yang ada pada dalam jiwa, dan inilah yang menjadi sumber jiwa
beragama, yaitu:
1) Keinginan untuk
keselamatan
2) Keinginan untuk
mendapat penghargaan
3) Keinginan
ditanggapi dan
4) Keinginan akan
pengetahuan (pengalaman) yang baru.
4.
G.M. Straton (1993) mengemukakan teori konflik.
Jiwa beragama,menurutnya adalah bersumber pada adanya konflik dalam kejiwaan
manusia.jika konflik itu mulai mencekam manusia akanmempengaruhi keadaan
jiwanya, manusia akan berusaha mencari pertolongan pada kekuasaan yang
tertinggi. Thomas Van Aquino berpendapat bahwa sumber jiwa agama adalah
berpikir.Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan
berpikirnya.Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.
- Perkembangan Agama Pada Masa Anak-anak[3]
Pada umumnya agama
seseorang ditentukan oleh pendidikan,pengalaman dan latihan-latihan yang
dimulai pada masa kecilnya dulu yang didapatkan dari keluarga, pendidikan
sekolah dan lingkungan sekitarnya.
Apabila seorang pada masa kecilnya tidak pernah
mendapatkan pendidikan agama, maka kelak dewasanya nanti ia tidak akan
merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan anak yang waktu
kecilnya mempunyai pendidikan dan pengalaman agam, mislanya ibu dan bapaknya
orang tua beragama, lingkungan sosial dan kawan-kawannya juga hidup menjalankan
agama.Maka orang itu dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup
dalam aturan-aturan agama, dan dapat merasakan betapa nikmat hidup dalam
beragama.
Bagaimana timbulnya
kepercayaan agama pada anak-anak, jika anak-anak dibiarkan saja tanpa didikan
agama, dan hidup dalam lingkungan tidak beragama, maka ia akan menjadi dewasa
tanpa agama.Yang dimaksud dengan masa anak-anak adalah sebelum berumur 12 tahun.
Jika mengikuti
periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari
tiga tahapan, yaitu:
a)
0-2 tahun (masa vital)
b) 2-6 tahun (masa
anak-anak)
c)
6-12 tahun (masa sekolah)
Seperti teori four wisher yang dikemukakan oleh
thomas, bahwa manusia dilahirkan kedunia ini memiliki empat keinginan, yaitu:
a.
Keinginan untuk selamat
b. Keinginan untuk
mendapat pengalaman baru,
c. Keinginan untuk
mendapatkan tanggapan baru, dan
d.
Keinginan untuk dikenal
Sementara Woodwort berpendapat bahwa bayi
dilahirkan telah memiliki beberapa insting, diantaranya insting keagamaan.
- Pembinaan Agama Pada Anak[4]
Perkembangan agama pada anak, terjadi melalui
pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, disekolah dan dalam
masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama dan semakin banyak
unsur agama maka sikap, tindakan, kelakuan, dan caranya menghadapi akan sesuai
dengan ajaran agama, diantara masalah yang perlu diketahui oleh para guru agama
adalah pembinaan pribadi anak.
Setiap orang tua dan guru ingin membawa anaknya
agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental
yang sehat dan akhlak yang terpuji semua dapat disahakan melalui pendidikan
baik yang formal (disekolah) maupun informal (dirumah oleh orang tua) setiap
pengalaman yang dilalui anak, baik melalui penglihatanm, pendengaran maupun
perlakuan yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadi anak.
Orang tua adalah pembinaan pribadi yang pertama
dalam kehidupan anak. Sikap anak terhadap orang tua, agama dan pendidikan agama
sangatlah dipengaruhi oleh sikap orang tuanya dimana fungsi orang tua terhadap
anaknya dapat digambarkan berdasarkan firman Allah SWT Surat At-Tahrim ayat 6
yang berbunyi:
Yang Artinya :“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
(Q.S.At-Tahrim : 6)
Dari kutipan dalil diatas
fungsi orang tua terhadap anaknya adalahsebagai pendidik uatama dalam pembinaan
pribadi anak, pembinaan ini melalui latihan-latihan, perbuatan misalnya
kebiasaan makan, minum, buang air mandi dan sebagainya.
Hubungan orang tua dengan
anak dilaksanakan dengan penuh pengertian dan kasih sayang dapat mempengaruhi
pertumbuhan jiwa anak, yang akan membawa kepada pembinaan pribadi anak yang
tenang, terbuka dan muda di didik karena ia mendapat kesempatan yang capak dan
baik untuk tumbuh dan berkembang.
Masa pendidikan disekolah
dasar, merupakan kesempatan pertama yang sangat baik untuk membina pribadi anak
setelah orang tua.Disekolah dasar memiliki persyaratan kepribadia dan kemampuan
untuk membina pribadi anak, maka anak yang tadinya sudah mulai tumbuh kearah
yang kurang baik dapat segera diperbaiki.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pembahasan di
atas dapat disimpulkan, bahwa:
1. Perkembangan
merupakan suatu perubahan dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif
melainkan kualitatif yaitu meliputi perkembangan segi fungsi-fungsi kepribdian
manusia.
2. Pada umumnya agama
seseorang ditentukan oleh pendidikan,pengalaman dan latihan-latihan yang
dimulai pada masa kecilnya dulu yang didapatkan dari keluarga, pendidikan
sekolah dan lingkungan sekitarnya.
3. Perkembangan agama pada
anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga,
disekolah dan dalam masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama
dan semakin banyak unsur agama maka sikap, tindakan, kelakuan, dan caranya
menghadapi akan sesuai dengan ajaran agama.
4. Orang tua
adalah pembinaan pribadi yang pertama dalam kehidupan anak.
B. Saran
Demikian yang dapat saya
paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya
masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Terima Kasih
pada semua pihak yang membantu. Teman-teman dan dosen pengampu yang telah membantu
saya dalam menyelesaikan makalah ini juga sumber-sumber yang telah membantu
saya dalam melengkapi materi makalah ini.
saya banyak berharap para pembaca
yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan
berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, 1991.Perkembangan
anak. Erlangga, jakarta.
Ali, Mohammad
dan Mohammad Asrori, 2004, Psikologi Remaja (Perkembangan Peseta didik),
Jakarta; PT. Bumi Aksara.
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdak
[1] Hurlock, 1991.Perkembangan anak.
Erlangga, jakarta
[3] Hurlock, 1991.Perkembangan anak.
Erlangga, jakarta

0 opmerkings:
Plaas 'n opmerking